Breaking

Friday, January 03, 2014

Makalah Tentang Musryik



1 . Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk hasil karya maha dahsyat dari Allah SWT. Penciptaan yang begitu sempurna telah ditunjukkan oleh-Nya dan telah terbukti secara ilmiah. Tak seorang-pun manusia di muka bumi ini mampu menyamai, apalagi menandingi ilmu dan kekuasaan yang Allah miliki. Allah juga telah memberikan fasilitas yang begitu lengkap kepada manusia. Manusia diberi amanat yang begitu besar, yakni untuk merawat salah satu ciptaan-Nya, yang tak lain manfaatnya juga akan kembali pada manusia. Allah hanya meminta manusia agar mereka tidak melupakan dari siapa semua kenikmatan hidup itu. Allah menciptakan semua makhluk di dunia ini untuk selalu patuh dan mengabdi kepada-Nya. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu firman Allah :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”


Namun pada kenyataannya, manusia kadang lupa terhadap Allah, bahkan mereka tidak mempercayai-Nya. Fenomena seperti ini telah terjadi sejak masa kenabian. Banyak manusia yang tidak mempercayai bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut disembah. Ada manusia yang menyembah berhala, api, matahari, dan lain sebagainya.

Dalam makalah ini, penulis akan menghadirkan beberapa penafsiran dari mufassir tentang perilaku syirik, yang dilihat dari segi makna syirik itu sendiri.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Makna Musyrik
Ada beberapa makna musyrik yang dapat ditemukan dalam al-Qur’an. Kata musyrik setidaknya disebutkan lebih dari 160 kali dengan sighat yang berbeda. Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah, mengakui akan adanya Tuhan lain.Dengan demikian orang musyrik disamping menyembah Allah, mengabdikan diri kepada Allah, juga mengabdikan dirinya kepada yang selain Allah. Jadi orang musyrik itu ialah mereka yang mempersekutukan Allah baik dalam bentuk I’tikad (kepercayaan), ucapan maupun dalam bentuk amal perbuatan. Mereka (orang musyrik) menjadikan mahkluk yang diciptakan Allah ini, baik yang berupa benda maupun manusia sebagai Tuhan dan menjadikan sebagai Andad , Alihah , Thoughut dan Arbab. Ini merupakan pengertian musyrik secara umum. Berikut ini, penulis akan menghadirkan beberapa ayat yang menyangkut perbuatan syirik.

2.2 Tinjauan al-Qur’an
a. Surat al-Hajj: 17
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi Keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”

Dari pengertian ini, syirik bukan berarti menyekutukan Allah terhadap sesuatu yang lain, melainkan lebih mengerucut pada suatu agama yang menyembah berhala. Lebih lajut agama ini merupakan agama yang berasal dari setan. Penafsiran seperti ini juga dikemukakan oleh Fatkhul Qodir. Berbeda dengan penafsiran Ibnu Katsir. Beliau berpendapat bahwa musyrik itu adalah:
والذين أشركوا فعبدوا غير الله معه.
Orang syirik itu adalah orang-orang yang menyembah selain Allah. Dari definisi ini, ibnu Katsir mendefinisikan perbuatan syirik lebih umum dari pada definisi yang diberikan oleh At-Thobari. Orang yang menyembah selain Allah berarti sudah melakukan dosa syirik yang akan mendapat balasan berupa neraka.
b. Q.S. al-An’am: 100
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.”

Menurut ibnu Katsir dalam kitabnya“tafsir qur’anil adhim”,ayat ini merupakan penolakan Allah terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah dengan jin, padahal jin itu merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah. Jika ditanya mengapa menyembah jin, padahal musyrik adalah orang yang menyembah berhala. Pada hakikatnya, mereka tidak menyembah berhala kecuali karena bisikan dan dorongan jin kepada mereka. Oleh karena itulah, dalam salah satu firman Allah yang berbunyi:
“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah.”

Ini merupakan perkataan nabi Ibrahim kepada ayahnya agar tigak menyembah setan. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada zaman nabi Ibrahim, menyembah berhala merupakan kepercayaan masyarakat saat itu. Namun, nabi Ibrahim mengatakan jangan menyembah setan.
Dari pernyataan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud musyrik dalam ayat di atas adalah orang yang menyembah berhala atas bisikan dan godaan jin. Lebih lanjut, kaum musyrik menuduh bahwa Allah beranak laki-laki dan wanita, yang tak lain persepsi tersebut juga berasal dari bisikan jin.

Penafsiran berbeda diperlihatkan oleh Ar-Rozi, bahwa ada tiga kelompok yang berbeda dalam memaknai arti syirik pada ayat di atas. Kelompok pertama berpendapat bahwa syirik adalah penyembahan berhala. Mereka menyekutukan Allah dengan menyembah berhala. Namun mereka megetahui bahwa berhala ini tidak kuasa atas penciptaan dan pembuatan. Kelompok kedua menyatakan bahwa maksud dari syirik disini adalah orang musyrik yang mengatakan pengatur alam ini adalah bintang-bintang. Kelompok ketiga mengatakan bahwa termasuk orang-orang musyrik ialah mereka yang mengatakan bahwa di seluruh alam ini ada dua Tuhan, yaitu Tuhan yang melakukan kebaikan dan Tuhan yang melakukan kejelekan.
c. Q.S. at-Taubah: 28
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dalam kitab karya Fatkhul Qodir, orang-orang musyrik disifati sebagai orang najis karena mereka itu tidak bersuci, tidak mandi, dan tidak menjauhi najis. Ini merupakan perkataan dari Qatadah dan Mu‘ammar. Sedangkan dalam ensiklopedi islam, diterangkan bahwa surat at-Taubah ini menjelaskan bahwa orang musyrik itu tergolong orang-orang najis dan Allah melarang mereka mendekati masjidil haram.

Keluar dari penafsiran ayat ini, diterangkan pula bahwa pengertian musyrik tidak hanya terbatas pada perbuatan menyembah berhala, menyembah manusia, ataupun meyakini berbilangnya Tuhan. Syirik juga meliputi fikir, sikap, dan tindakan yang muncul dari dalam diri manusia.

d. Q.S. Yusuf: 106
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).”

Dalam tafsir ath-Thobari, diterangkan bahwa lafadz musyrik dalam ayat di atas bermakna kelompok yang menyembah berhala dan berasumsi bahwa Tuhan itu mempunyai anak. Lebih lanjut dijelaskan oleh al-Alusi bahwa yang dimaksud anak Tuhan adalah para malaikat. Dalam kitab fatkhul qodir, musyrik disini diartikan kelompok yang menyembah selain Allah. Sedangkan menurut az-Zamakhsari, musyrik disini adalah mereka yang menyembah berhala. Beliau juga mengutip pendapat dari hasan yang menyatakan musyrik adalah para ahli kitab yang tenggelam dalam kemusyrikan, namun juga masih beriman. Serta dari ibnu Abbas yang beranggapan bahwa musyrik itu adalah golongan yang menyamakan Tuhan dengan ciptaan-Nya.


2.3 Macam-Macam Syirik
Dalam kitab jawabul kafi termaktub bahwa syirik itu ada dua macam. Pertama, syirik yang berkaitan dengan dzat Allah Yang Disembah, asma-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya. Kedua, syirik yang berhubungan dengan penyembahan terhadap-Nya dan bermu’amalah dengan-Nya, meskipun pelaku syirik yang kedua ini berkeyakinan bahwa Allah SWT tidak memiliki sekutu dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Dalam kutubul akhlaq war riqoq (kabair) disebutkan bahwa dosa yang paling besar adalah syirik. Syirik sendiri terdiri dari dua macam, yaitu menyembah selain-Nya seperti menyembah batu, pohon, matahari, bulan, nabi, bintang, raja, atau yang lainnya. Ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang disebutkan oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”

Barang siapa menyekutukan Allah dan mati dalam keadaan musyrik, tak lain ia bagian dari ahli neraka. Kedua adalah syirik yang berupa sifat riya dalam suatu perbuatan, sebagaimana firman Allah SWT:
 “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

2.4 Musryik Dalam Islam
Hal itulah yang disebut musyrik dalam Islam. Musyrik dalam Islam berarti mempersekutukan Allah swt dan bergantung kepada dzat selain-Nya. Dalam surat Al-Ikhlas, secara gamblang, Allah mengajarkan kepada kita bahwa dzat-Nya hanyalah satu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Pada ayat pertama, dijelaskan bahwa Allah, Tuhan Semesta Alam, hanyalah satu dzat. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa hanya kepada-Nyalah tempat manusia menggantungkan hidup. Allah juga tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Pada akhirnya, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyerupai-Nya.
Musyrik dalam Islam merupakan orang yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya tuhan selain Allah Swt atau menyamakan sesuatu dengan Allah Swt. Perbuatan itu disebut musyrik. Firman Allah Swt:
“Ingatlah Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya:’Hai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13).
Dengan demikian orang musyrik dalam Islam disamping menyembah Allah Swt, taat kepada Allah Swt, juga mengabdikan dirinya kepada yang selain Allah Swt. Jadi orang musyrik itu ialah mereka yang mempersekutukan Allah Swt baik dalam bentuk i’tikad atau kepercayaan, ucapan maupun dalam bentuk amal perbuatan. Berikut beberapa kepercayaan orang-orang musyrik:
1. Alihah
Alilah adalah suatu kepercayaan terhadap benda dan binatang yang menurut keyakinannya dapat memberikan manfaat serta dapat menolak bahaya. Misalnya kita memakai cincin merah delima, dan kita yakin bahawa dengan memakainya dapat menghindarkan bahaya. Adapun kepercayaan memelihara burung Terkukur dapat memberikan kemajuan dalam bidang perniagaannya. Dan itulah dinamakan Alihah, yakni menyekutukan Allah Swt dengan binatang dan benda.
2. Andad
Andad adalah sesuatu perkara yang dicintai dan dihormati melebihi daripada cintanya kepada Allah Swt, sehingga dapat memalingkan seseorang dari melaksanakan ketaatan terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya. Misalnya saja seorang yang senang mencintai kepada benda, keluarga, rumah dan sebagainya, dimana cintanya melebihi cintai terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya. Sehingga mereka lalai dalam melaksanakan kewajiban agama, karena terlalu cintanya terhadap benda tersebut.

3. Thoghut
Thoghut adalah orang yang ditakuti dan ditaati seperti takut kepada Allah Swt, bahkan melebihi rasa takut dan taatnya kepada Allah Swt, walaupun keinginan dan perintahnya itu harus berbuat derhaka kepada-Nya.
4. Arbab
Arbab adalah para pemuka agama atau ulama, ustad yang suka memberikan fatwa, nasihat yang menyalahi ketentuan, perintah dan larangan Allah Swt dan Rasul-Nya, kemudian ditaati oleh para pengikutnya tanpa diteliti dulu seperti mentaati terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya. Para pemuka agama itu telah menjadikan dirinya dan dijadikan para pengikutnya Arbab atau tuhan selain Allah Swt.
Dosa Besar
Dalam kaitannya dengan musyrik, Islam memandang amalan musyrik sebagai suatu dosa besar. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar dosa besar tersebut diampuni adalah kembali ke jalan-Nya, bertaubat dengan sebenar-benar taubat (taubatan nasuha).
Amalan yang berakibat musyrik dapat secara sengaja kita lakukan atau kita sendiri tidak terlalu menyadari perbuatan yang memicu amalan musyrik tersebut. Bayangkan Anda memenangkan sebuah tender. Anda akan berpikir bahwa tender tersebut diraih karena usaha keras yang telah Anda lakukan. Sebenarnya, keberhasilan tersebut merupakan anugerah yang Allah berikan kepada Anda. Keberhasilan itu merupakan sebuah nikmat sekaligus cobaan. Sebuah nikmat karena Anda bisa mendapatkan “upah” dari jerih payah yang telah dilakukan selama ini.
Sebuah cobaan karena dengan kenikmatan tersebut boleh jadi Allah sedang menguji apakah kita menjadi hamba yang bersyukur atau kufur akan segala nikmat-Nya.
Tidak Bersyukur
Penolakan atau keyakinan bahwa suatu nikmat bukanlah berasal dari kasih sayang dan anugerah Allah Swt, merupakan contoh kecil musyrik yang tidak terlalu terang-terangan kita lakukan. Penolakan tersebut digolongkan sebagai perbuatan musyrik karena kita meniadakan peran Allah Swt sebagai pemberi nikmat.
Hal itu mendorong kita melakukan perbuatan yang tergolong sebagai dosa besar. Selain itu, perilaku musyrik dapat dilakukan secara terang-terangan. Misalnya, Anda menaruh sebuah patung dengan harapan patung tersebut dapat memberikan pemasukan yang lebih terhadap usaha Anda.
Anda juga mengharapkan bantuan patung tersebut untuk menarik pelanggan sebanyak-sebanyaknya. Anda lupa dan tidak sadar bahwa patung tersebut sebenarnya tidak memberikan kuasa apapun terhadap usaha Anda. Jadi, berhati-hatilah terhadap setiap tindakan yang Anda lakukan!
2.5 Golongan Orang-Orang Musyrik dalam Islam
Siapakah yang disebut orang musyrik itu? Kapan seseorang dikatakan musyrik? Apakah ada kaitan antara penamaan musyrik dengan tegaknya hujjah? Apakah pelaku syirik akbar yang jahil bisa dikatakan musyrik? Mari kita mengkajinya dengan berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah serta ijma’ dan pernyataan para ulama dakwah tauhid.
Syirik adalah lawan tauhid, maka tidak ada tauhid bila syirik terdapat pada diri seseorang. Orang yang berbuat syirik akbar dengan sengaja tanpa ada unsur paksaan maka dia itu musyrik, baik laki-laki atau perempuan, baik mengaku Islam atau tidak, berdasarkan dalil-dalil berikut ini:
1. Dalil-Dalil dari Al-Qur’an
“Dan bila ada satu orang dari kalangan orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka berilah dia perlindungan sampai dia mendengar firman Allah.” (QS. At Taubah: 6).
Dalam ayat ini Allah Swt menamakan pelaku syirik sebagai orang musyrik, meskipun dia belum mendengar firman Allah Swt, maka apa gerangan dengan pelaku syirik yang telah mendengar firman Allah Swt, dia membaca Al-Qur’an dan terjemahannya. Bahkan mungkin juga menghafalnya
“Tidak selayaknya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan bagi kaum musyrikin, meskipun mereka itu kerabat dekat.” (QS. At Taubah: 113).
Ayat ini berkenaan dengan Rasulullah Saw saat meminta izin kepada Allah Swt untuk memintakan ampunan bagi ibunya yang meninggal sebelum Rasulullah diutus, dan meninggal di atas ajaran kaumnya yang syirik. Allah Swt menggolongkan ibunda beliau dalam jajaran kaum musyrikin, padahal saat itu dalam kebodohan, belum ada dakwah dan hujjah risaliyyah karena saat itu terjadi kekosongan dakwah.
“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (QS. An Nisaa’: 36).
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah seraya memurnikan seluruh dien (ketundukan) hanya kepada-Nya, lagi mereka itu hanif” (QS. Al Bayyinah: 5).
“Hak hukum (putusan) hanyalah milik Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Itulah dien yang lurus….” (QS. Yusuf : 40).
“Dia (Yusuf) tidak mungkin membawa saudaranya pada dien (UU/Hukum) raja itu” (QS. Yusuf : 76).
Orang yang di samping beribadah kepada Allah Swt juga beribadah kepada yang lainnya, sesungguhnya dia itu tidak dianggap beribadah kepada Allah Swt.
“Katakanlah : “Wahai orang-orang kafir, aku tidak beribadah kepada tuhan-tuhan yang kalian ibadati.” (QS. Al Kaafiruun: 1-2).
Dalam surat ini Rasulullah Saw diperintahkan untuk menyatakan,“Saya tidak akan beribadah kepada tuhan-tuhan yang kalian ibadati, wahai orang-orang kafir Quraisy!”, padahal di antara tuhan yang mereka ibadati itu adalah Allah Swt! Apakah ini berarti Rasulullah tidak akan beribadah kepada Allah Swt juga? Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa peribadatan mereka kepada Allah Swt itu tidak dianggap, karena mereka juga beribadah kepada yang lain-Nya.
2. Dalil dari Hadis
Dahulu ada seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Saw tentang ayahnya yang meninggal pada zaman fatrah, yaitu zaman ketika tidak ada dakwah di atas ajaran syirik. maka Rasulullah Saw menjawab, “Ayahmu di neraka”, mendengar jawaban itu si laki-laki mukanya merah, dan ketika dia berpaling, Rasulullah Saw memanggilnya dan mengatakan kepadanya,“Ayahku dan ayahmu di neraka” (HR. Muslim).
Ayah Rasulullah Saw, Abdullah meninggal pada zaman jahiliyah, saat tidak ada dakwah dan tidak ada hujjah risaliyyah, meninggal di atas ajaran syirik kaumnya. Rasulullah Saw bukan hanya menetapkan status nama di dunia, tapi juga langsung hukum pasti bagi ayahnya di akhirat kelak, berupa api neraka. Dari hadis ini Imam Nawawiy menyatakan bahwa orang yang berbuat syirik akbar, baik zaman fatrah atau bukan, baik ada dakwah atau tidak, dia itu adalah calon penghuni neraka.
3. Ijma Para Ulama
Para ulama ijma bahwa orang yang berbuat syirik akbar itu dinamakan musyrik. Hal yang menjadi perbedaan di antara mereka hanyalah masalah ‘adzab di akhirat bagi yang belum tegak hujjah risaliyyah atasnya.
Adapun masalah nama di dunia mereka sepakat bahwa ia adalah musyrik. Sehingga mereka sepakat bahwa status anak orang musyrik dalam Islam di dunia adalah musyrik. Namun perbedaan di antara mereka hanya dalam masalah status akhirat, dia ke surga atau ke neraka. Di dunia tentang nama sepakat, sehingga anak-anak orang musyrik dijadikan budak, sedangkan orang muslim itu tidak bisa dijadikan budak di awalnya.
Itulah beberapa catatan penting tentang musyrik dalam Islam yang patut kita cermati. Dengan demikian setidaknya bisa menjadi sebuah pegangan buat kita untuk tidak terjebak dalam bahaya syirik.


BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Banyaknya penafsiran lafadz musyrik membuat kita harus lebih jeli dalam menentukan makna suatu kata dalam al-Qur’an. Bertitik tolak pada penafsiran-penafsiran di atas, penulis menyimpulkan bahwa arti dari lafadz musyrik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:
1. Musyrik yang berarti sebuah agama yang selain menyembah Allah, juga menyembah berhala.
2. Musyrik berarti sebuah perilaku yang menyekutukan atau menyamakan Allah dengan sesuatu yang lain, seperti berhala, matahari, atau batu.
3. Musyrik dapat berarti sebuah pemikiran ataupun sikap yang mempercayai adanya penolong selain-Nya.

3.2 PENUTUP
Demikian makalah ini disusun. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi saya khususnya dan kepada bapak dosen pengampu serta pembaca sekalian pada umumnya. Penulis sadar bahwa tiada gading yang tak retak, tiada makalah tanpa suatu kekurangan. Bimbingan dari bapak dosen pengampu, semoga dapat memperbaiki isi ataupun kandungan makalah ini.


No comments:

Post a Comment